makalah Agroklimatologi kelapa sawit
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada awal tahun 80-an tanaman kelapa sawit
digelari sebagai komoditi primadona
karena memberi keuntungan yang melimpah. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit sangat pesat. Sebelum Perang
Dunia II, Sumatera Utara dan Aceh merupakan
penghasil minyak terbesar di dunia, tetapi setelah perang Malaysia menjadi produsen minyak sawit yang utama. Hal
ini berkat kemampuan Malaysia dalam mengelola perkebunan sawit secara efisien
dan di dukung oleh penelitian dan pengembangan
teknologi yang mantap (Sianturi, 1993).
Dari berbagai perkembangan dan kajian
yang ada, terlihat bahwa ke depan persaingan
dalam
usaha perkebunan kelapa sawit bukan saja terjadi antar sesama negara produsen melainkan juga persaingan
dengan jenis minyak nabati lainnya. Jika ditinjau untuk masing-masing komoditi,
diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan produksi untuk minyak kelapa sawit pada
periode 2003-2007 mengalami kenaikan menjadi 25.340.360 ton (26,5 %) dari total
produksi jenis minyak nabati. Begitu juga
dengan konsumsi, diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan konsumsi yang
cukup tinggi terjadi terutama pada tiga
jenis minyak nabati yaitu minyak kedelai, minyak kelapa sawit dan minyak kanola. Namun
demikian mulai periode 2003-2007 pangsa konsumsi minyak kelapa sawit
mengungguli pangsa konsumsi minyak kedelai. Kondisi tersebut diperkirakan masih
akan terus berlanjut hingga tahun 2020.
Dari hasil analisa diatas diketahui
bahwa Indonesia masih kekurangan minyak goreng
untuk kebutuhan nasional sebesar 1.339.000 ton (setara dengan kebutuhan CPO sebesar 1.786.533,33 ton atau setara dengan
ketersediaan TBS sebesar 7.767.536,23
ton). Hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk pengolahan minyak goreng sawit
maupun pengolahan CPO dan budidaya kelapa sawit masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan di
Indonesia. Sementara dari data ekspor dapat
diketahui bahwa kuota impor China untuk minyak goreng sawit mencapai 2,6
juta ton pada tahun 2004 dan Indonesia
baru menyanggupi 0,7 juta ton untuk CPO dan 0,2
juta ton untuk minyak goreng sawit dan Cina masih membuka importir untuk
mengimpor minyak goreng sawit sebesar 0,5 juta ton. Dan untuk India pada tahun 2004
kuota impor minyak goreng sawit mencapai 2,5 juta ton. (Kompas, 2004 dalam Media
Indonesia 2008).
Saat ini Indonesia dan Malaysia merupakan
produsen utama CPO dunia dengan menguasai lebih dari 80 % pangsa pasar. Negara-negara
produsen lainnya, seperti Nigeria, Kolombia, Thailand, Papua Nugini dan bahkan
Pantai Gading, boleh dibilang hanya menjadi pelengkap. Malaysia menempati
peringkat teratas dengan volume produksi pada 2003 mencapai 13,35 juta ton.
Sementara Indonesia masih 9,75 juta ton. Menurut ramalan Oil World, volume
produksi CPO Indonesia pada 2010 bakal mencapai 12 juta ton. Namun agaknya ramalan
itu bakal meleset, sebab pada 2004 saja volume produksi CPO Indonesia sudah
mencapai 11,5 juta ton (Regionalinvestment, 2008).
Pada saat ini harga sawit anjlok sesuai
laporan dalam Media Indonesia (2008) yang mengatakan bahwa harga anjlok,
sehingga puluhan ribu Ha sawit tidak dipanen. Harga tandan buah segar (TBS)
kelapa sawit yang anjlok membuat ribuan petani
enggan memanen puluhan ribu hektare tanamannya. Harga sawit di tingkat
pedagang pengumpul hanya berkisar Rp250-, per kilogram. Turun sekitar Rp100-,
dari sehari sebelumnya yang dipatok seharga Rp350-, per kilogram, padahal
petani harus mengeluarkan biaya panen sekitar Rp300-, per kilogram. Biaya
tersebut Rp200-, untuk biaya pengangkutan dan Rp100-, per kilogram untuk upah
pekerja. Petani akan semakin terpuruk jika tetap memanen sawitnya.
B. Tujuan
Tujuan penulisan paper adalah untuk membahas
pengaruh iklim terhadap pertumbuhan dan
produksi kelapa sawit serta usaha untuk meningkatkan kualitas dan hasil
olahannya.
BAB II
ISI
- BIOLOGI DAN VARIETAS KELAPA SAWIT
1. Tinjauan Botanis
Kelapa sawit dengan nama ilmiah Elaeis
guineensis Jacq, termasuk famili Arecaceae (Palmaceae atau Palmae). Dalam Sianturi
(1993) disebutkan bahwa tanaman kelapa sawit atau Elaeis guineensis Jacq disebut
juga sebagai kelapa sawit Afrika untuk membedakannya dengan kelapa sawit
Amerika atau Corozo oleifera (HKB) Baley (dahulu disebut Elaeis melanococca Gaertn)
yang banyak terdapat di Colombia dan Amerika Selatan. Jenis C. Oleifera yang
mempunyai ciri khas pendek belum begitu penting artinya saat ini, namun di masa
depan mungkin dapat dimanfaatkan melalui persilangan Elaeis guineensis untuk
memperoleh palma yang pendek dan berproduksi tinggi, sehingga ongkos panen
murah.
Akar primer tumbuh pada pangkal batang
dalam jumlah besar yang berfungsi mengasorbsi air dan hara mineral dari dalam
tanah. Pada tanaman dewasa terdapat 8.000-10.000 akar primer yang berdiameter
4-10 mm, kebanyakan tumbuh horizontal di bawah permukaan tanah pada kedalaman
20-60 cm. Dari akar primer tumbuh akar sekunder yang lebih halus berdiameter
2-4 mm dan panjang 150 cm. Akar-akar tertier berdiameter 1-2 mm dengan panjang
10-15 cm, tumbuh agak mendatar dari akar sekunder. Akar kuarter berdiameter 0.5
mm dan panjang 2 cm, tumbuh pada akar tertier.
Batang berdiameter 45-60 cm, di perkebunan
umumnya 45-60 cm. Biasanya pangkal-pangkal daun melekat beberapa tahun pada batang,
berangsur-angsur lepas pada umur 11 tahun bahkan ada yang sampai 17 tahun pada
tanaman yang sedikit liar. Batang adalah tunggal tidak bercabang, kecuali
abnormal. Tinggi batang bisa mencapai 20 m lebih, umumnya di perkebunan 15-18
m. Batang mengandung sangat banyak serat dengan jaringan pembuluh yang menunjang
pohon dan pengangkutan hara.
Umumnya tanaman kelapa sawit memiliki 40
hingga 55 daun, jika tidak dipangkas bisa lebih dari 60 daun. Tanaman yang
sudah tua membentuk 2-3 daun perbulan, sedangkan yang lebih muda menghasilkan
3-4 daun perbulan. Produksi daun dipengaruhi oleh umur, musim, iklim, lingkungan
dan genetik. Produksi daun meningkat sampai dengan umur 6-7 tahun, kemudian
menurun pada umur 12 tahun. Panjang daun mencapai 9 m, anak daun antara 200-400
helai yang tumbuh di kedua sisinya.
Inisiasi bunga terjadi pada palma dewasa
yaitu 33-34 bulan sebelum penyerbukan, bisa menjadi tandan bunga jantan dan
betina. Ada juga yang tidak berdiferensiasi menjadi jantan atau betina tetapi
membentuk tandan bunga banci (hermaprodit). Tandan bunga jantan dan betina tumbuh
di ketiak daun, keduanya tumbuh pada pohon yang sama, berumah satu tetapi tidak
lazim terdapat bunga majemuk sekaligus dalam satu pohon. Tandan bunga jantan
terdiri atas sejumlah spikelet yang panjangnya 12-20 cm yang tumbuh dari
tangkai bunga, jumlah serbuk sari yang dihasilkan tandan bunga jantan 25-50
gram. Tandan bunga betina terbungkus dalam seludang (spadiks), panjangnya 24-45
cm yang terdiri atas ribuan bunga yang tersusun secara spiral pada sumbu
sentral.
Buah sawit dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu :
•
sebelum masak buah berwarna
kehitam-hitaman dan menjadi agak merah bila matang karena bertambahnya karotein
pada perikarp disebut nigrescens.
•
buah yang mula-mula berwarna
hijau kemudian menjadi kuning dengan ujung hijau disebut virescens
•
tipe yang jarang adalah
albescens, berasal dari Afrika mesokarpnya kurang mengandung karotenoid dan
jarang diusahakan.

Gambar 1. Buah sawit
2. Varietas Kelapa Sawit
Ada tiga tipe bahan dasar
yang lazim digunakan dalam pemuliaan kelapa sawit yaitu :
a.
Dura. Persentase mesokarp
terhadap buah bervariasi antara 35-50%, Deli Dura dapat mencapai 65%. Tebal
cangkang 2-8 mm, tidak ada serat melingkar di sekelilingnya. Inti biasanya
besar, kadar minyak mesokarp terhadap tandan agak rendah 17-18%. Dura banyak
digunakan sebagai induk betina dalam program pemuliaan.
b.
Psifera. Tipe ini ditandai
dengan buah yang tidak bercangkang, tetapi inti yang kecil dilingkari oleh
serat. Karena tidak ada cangkang, maka nisbah mesokarp terhadap total buah dan
kadar minyak menjadi tinggi. Psifera biasanya disebut sebagai betina steril,
karena sebagian besar tandannya mengalami aborsi. Jadi Psifera tidak dapat
digunakan sebagai bahan untuk pertanaman komersial, tetapi digunakan sebagai
bahan induk jantan.
c.
Tenera. Merupakan hasil
persilangan Dura dan Psifera, tipe inilah yang banyak ditanam para perkebunan
skala besar. Ketebalan cangkang berkisar antara 0.5- 4.0 mm, yang dikelilingi
oleh cincin serat. Nisbah mesokarp terhadap buah adalah 60-90%. Umumnya Tenera
menghasilkan lebih banyak tandan buah dari pada Dura meskipun ukurannya lebih
kecil. Nisbah rendemen minyak terhadap tandan adalah 22-24% dan masih terus
ditingkatkan dengan usaha pemuliaan.

Gambar 2. Tandan buah segar
kelapa sawit
Tanaman kelapa sawit secara umum waktu
tumbuhnya rata-rata 20–25 tahun. Pada tiga tahun pertama disebut sebagai kelapa
sawit muda, hal ini dikarenakan kelapa sawit tersebut belum menghasilkan buah.
Kelapa sawit mulai berbuah pada usia empat sampai enam tahun. Dan pada usia
tujuh sampai sepuluh tahun disebut sebagi periode matang (the mature periode),
dimana pada periode tersebut mulai menghasilkan buah tandan segar ( Fresh Fruit
Bunch). Tanaman kelapa sawit pada usia sebelas sampai dua puluh tahun mulai mengalami
penurunan produksi buah tandan segar. Dan terkadang pada usia 20-25 tahun
tanaman kelapa sawit mati.
Semua komponen buah sawit dapat dimanfaatkan
secara maksimal. Buah sawit memiliki daging dan biji sawit (kernel), dimana
daging sawit dapat diolah menjadi CPO (crude palm oil) sedangkan buah sawit
diolah menjadi PK (kernel palm). Ekstraksi CPO rata-rata 20 % sedangkan PK
2.5%. Sementara itu cangkang biji sawit dapat dipergunakan sebagai bahan bakar
ketel uap. Minyak sawit dapat dipergunakan untuk bahan makanan dan industri
melalui proses penyulingan,
penjernihan dan penghilangan bau atau
RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil). Disamping itu CPO dapat
diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD Stearin) dan untuk produksi
minyak sawit cair (RBD Olein). RBD Olein terutama dipergunakan untuk pembuatan
minyak goreng. Sedangkan RBD Stearin terutama dipergunakan untuk margarin dan
shortening, disamping untuk bahan baku industri sabun dan deterjen. Pemisahan
CPO dan PK dapat menghasilkan oleokimia dasar yang terdiri dari asam lemak dan
gliserol. Secara keseluruhan proses penyulingan minyak sawit tersebut dapat
menghasilkan 73% olein, 21% stearin, 5%
PFAD (Palm Fatty Acid Distillate) dan
0.5% buangan.
- PENGARUH IKLIM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KELAPA SAWIT
Penyebaran kelapa sawit alami di daerah
asalnya yaitu Afrika berada pada 13°LU dan 12°LS. Di luar Afrika terdapat
sepanjang pesisir Atlantik di Brazilia ada 13-14°LS. Sekarang ini penyebaran
kelapa sawit sudah ada pada 16°LU - 10°LS.
Pada tahun 1848 kelapa sawit masuk ke
Indonesia dan daerah-daerah lain di Asia sebagai tanaman hias. Pada tahun 1911
barulah diusahakan melalui perkebunan besar di Sumatera Utara dan hasilnya
cukup baik karena didukung oleh faktor iklim yang mendukung. Dalam pertumbuhan
dan produksinya kelapa sawit dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim.
- Curah Hujan
Tanaman kelapa sawit tumbuh baik di
derah tropik, dataran rendah yang panas dan lembab. Curah hujan yang baik
adalah 2.500-3.000 mm pertahun yang turun merata sepanjang tahun. Curah hujan
tahunan di 25 daerah pertanaman yang pernah dicatat oleh Hartley ( 1967; dalam
Fewerda 1977) bervariasi antara 1531 mm di Pobe (Dahomey) dan 3634 mm di
Jerangau (Malaysia). Yang ekstrem 1217 mm di Pobe, 5093 mm di Barrancabermeja
(Colombia) dan 8430 mm di Edanau (Camerun). Yang terpenting untuk pertumbuhan
tanaman sawit adalah distribusi hujan sepanjang tahun yang merata (Sianturi,
1993).
kelapa sawit membutuhkan curah hujan
tahunan antara 1.500-4.000 mm, optimal 2.000-3.000 mm/tahun. Secara alami
kelapa sawit hanya dapat tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini dapat tumbuh
ditempat berawa (swamps) di sepanjang bantaran sungai dan di tempat yang basah.
Kendala perluasan areal kelapa sawit adalah
harus menggunakan lahan marginal dengan keterbatasan kesuburan tanah, iklim,
dan ketersediaan serta kualitas air, yang menyebabkan tanaman mengalami cekaman
kekeringan. Winarso (1992), melaporkan bahwa cekaman air dapat lebih parah
karena saat ini terjadi perubahan iklim global yang mengarah ke suhu harian
yang meningkat, kelembaban udara menurun, periodisitas iklim kering semakin
pendek, dan kelebihan sinar ultra violet. Kekeringan dengan defisit air di atas
250 mm tahun-1 akan mengakibatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit
terganggu yang berlangsung sampai 2–3 tahun ke depan (Lubis, 1992). Sebagai
contoh, produksi tandan buah segar di Kebun Bekri (Lampung) menurun akibat
kekeringan pada musim kemarau panjang yang terjadi pada tahun 1982. Penurunan
tersebut 5–11% pada tahun berjalan, 14–55 % pada tahun 1983, dan 4–30% pada
tahun 1984 (Lubis, 1985).
Secara morfologis pengaruh cekaman
kekeringan terjadi pada pertumbuhan vegetatif, terutama pada luas daun,
pertumbuhan tunas baru, nisbah pupus-akar. Pada fase generatif pembungaan tidak
normal, aborsi embrio, dan perkembangan biji dan buah tidak normal yang
akhirnya dapat menurunkan hasil (Kramer, 1983). Pada tanaman kelapa sawit,
cekaman kekeringan yang berlangsung lama dapat menghambat pembukaan pelepah
daun muda, daun bagian bawah cepat mengering, merusak hijau daun, tandan buah
mengering dan patah pucuk, bahkan tanaman mati jika kondisi ekstrim kering terjadi
(Caliman, 1992; Caliman & Southworth, 1998). Pada fase reproduktif cekaman
kekeringan menyebabkan perubahan nisbah kelamin bunga, bunga dan buah muda
gugur, dan tandan buah gagal masak (Caliman & Southworth, 1998) sehingga
menurunkan produksi tandan buah segar 10%–40% dan minyak sawit 21%–65% (Siregar
et al., 1998; Subronto et al., 2000).
Cara yang paling baik untuk mengurangi
intensitas cekaman kekeringan adalah dengan irigasi, namun memerlukan biaya
yang tinggi di samping sumber air harus tersedia cukup yang juga menjadi
kendala pada musim kemarau. Subronto et al. (1998), mengemukakan bahwa upaya
yang efisien untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah menanam tanaman
yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Seleksi awal dapat dilakukan di lapang,
yaitu dengan penelusuran tetua-tetua yang mempunyai potensi toleran terhadap
cekaman kekeringan sebagai sumber materi
genetik persilangan.
- Kelembaban
Pendapat Sianturi (1993), kemarau yang
panjang dapat mengakibatkan pengeringan tanah di daerah perakaran yang relatif
dangkal sehingga kelembaban tanah bisa di bawah titik layu permanen. Hal inilah
yang membuat tanaman sawit tumbuh lambat pada daerah yang beriklim moonson dan
produksi kecil. Kelembaban relatif
paling sedikit 75%.
Pada proses perkecambahan diperlukan
kelembaban 60-80% dengan temperatur 35ºC. Kelembaban optimum yang ideal sekitar
80-90 % dalam situs
- Suhu
Suhu yang tetap tinggi terdapat pada
elevasi dekat dengan permukaan laut. Ada empat aspek suhu yang perlu
dikemukakan yaitu suhu rata-rata, rata-rata tahunan, variasi harian dan
pengaruh suhu ekstrem. Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa
sawit berada antara 24-28°C, yang menghasilkan banyak tandan adalah suhu
rata-rata antara 25-27°C.
Variasi suhu tahunan yang baik jangan terlalu
tinggi, misalnya Malaysia hanya 1.1°C, sedang Honduras 3.8°C dan Bahia mencapai
5.8°C. Semakin besar variasi suhu semakin rendah hasil yang diperoleh, suhu
dingin dan tidak menyebar merata sepanjang tahun dapat membuat tandan bunga
mengalami aborsi. Misalnya di Honduras produksi puncak terdapat pada bulan
September-November, tetapi tidak berbuah sama sekali pada bulan Januari-April.
Suhu harian bervariasi antara 4.8°C dan
11.2°C, tetapi 50% adalah bervariasi sempit antara 8-10°C. Perkebunan yang
paling tinggi hasilnya adalah pada daerah yang variasi suhu hariannya sempit
(Sianturi, 1993). Suhu rata-rata minimum 22°C dan maksimum 32°C. Suhu absolut
maksimum adalah 38°C dan minimum 8°C, bila suhu tersebut singkat tidak akan
mematikan. Suhu optimum untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 29-30 °C.
Benih kelapa sawit mengalami dormansi
(keadaan sementara tanaman) yang cukup panjang. Diperlukan aerasi yang baik dan
temperatur yang tinggi untuk memutuskan masa dormansi agar bibit dapat
berkecambah.
- Radiasi Matahari
Intensitas sinar matahari di ekuator
berkisar antara 1410 J cm-2hari-1 dalam bulan-bulan minimal Juni dan Desember,
dengan 1540 J cm-2hari-1 dalam bulan-bulan maksimal Maret dan September. Pada
10°LU sangat nyata beda bulan minimum Desember (1218 J cm-2hari-1 ). Langit
yang berawan mengurangi intensitas matahari 20%, tetapi mengurangi radiasi
fotosintesis aktif hingga 50%. Jika cahaya dikurangi dengan kisi-kisi bambu
pada pembibitan maka bobot kering 13 minggu setelah berkecambah berkurang 24%
untuk seluruh tanaman, yaitu 21% untuk tanaman di atas tanah dan 33% pada akar.
Lama penyinaran matahari yang baik pada kelapa
sawit adalah 5-7 jam per hari. Rata-rata lama penyinaran di Medan 5.2 jam/hari
dengan energi radiasi 383 gcal/cm-2 tahun-1. Pertumbuhan tanaman kelapa sawit
di Sumatera Utara terkenal baik, lebih baik dari Afrika sebagai asal tanaman
kelapa sawit berkat iklim yang sesuai yaitu lama penyinaran matahari yang
tinggi dan curah hujan yang cukup, umumnya turun pada sore atau malam hari.
Daerah Palembang lama penyinaran agak kurang karena sering turun hujan
rintik-rintik di siang hari, demikian juga di Afrika (Sianturi, 1993).
disebutkan bahwa intensitas penyinaran matahari sekitar 5-7 jam/hari.
Didalam hutan hujan tropis, tanaman ini
tidak dapat tumbuh karena terlalu lembab dan tidak mendapat sinar matahari
karena ternaungi kanopi tumbuhan yang lebih tinggi.
- Ketinggian Tempat
Daerah pertanaman yang ideal adalah dataran
rendah yakni 200 m di atas permukaan laut, tetapi masih cukup baik hingga
ketinggian 400 m diatas permukaan laut. Ketinggian hingga 600 m di atas
permukaan laut kelapa sawit masih dapat tumbuh dengan laju pertumbuhan yang
lambat dan lebih dari 600 m dpl tidak dianjurkan (Sianturi, 1993).
Angin tidak mempengaruhi pertumbuhan
karena bentuk daun yang sedemikian rupa sehingga tidak mudah dirusak angin.
dikemukakan bahwa topografi datar dan berombak sampai bergelombang, kelerengan
ideal berkisar antara 0 sampai 25%. Letak yang ideal untuk pengembangan kelapa
sawit ketinggian pertanaman kelapa sawit yang ideal berkisar antara 0-500 m
dpl. Kondisi topografi pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15°.

Gambar 3. perkebunan kelapa
sawit
- USAHA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT
- Menyiapkan Benih Berkualitas
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)
yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara merupakan lembaga penelitian yang
berdedikasi khusus pada kelapa sawit. Penelitian yang dilakukan PPKS mencakup
aspek kultur teknis, pengolahan minyak, permesinan dan sosial ekonomi. PPKS
juga secara aktif memberikan layanan teknis pada industri kelapa sawit.
Meskipun PPKS adalah lembaga nirlaba, PPKS menempatkan diri sebagai bagian dari
bisnis sehingga penelitiannya berorientasi pada bisnis, baik yang berskala
kecil maupun besar. Para peneliti membentuk kelompokkelompok peneliti yaitu
Genetika dan Bioteknologi, Tanah dan Agronomi, Proteksi Tanaman, Engineering
dan Lingkungan, serta Sosial Ekonomi. Lembaga ini memiliki visi menjadi lembaga
penelitian yang memainkan peranan penting dalam pembangunan industri kelapa
sawit Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan, melalui penyiapan paket
teknologi yang mempunyai keunggulan kompetitif di pasar dalam maupun luar
negeri. PPKS diharapkan akan menjadi center of excelence yang dijadikan acuan
dalam penentuan kebijakan pembangunan industri kelapa sawitnasional.
Sementara misi PPKS adalah menunjang
pengembangan industri kelapa sawitmelalui penelitian, pengembangan dan
pelayanan. Misi yang diemban PPKS sangat penting, mengingat Indonesia memiliki
berbagai keunggulan komparatif yang dapat menjadikan industri kelapa sawit
Indonesia kompetitif di perdagangan dunia.
Perbanyakan kelapa sawit dilakukan
dengan cara generatif dan saat ini sudah dilakukan kultur jaringan untuk memperbanyak
kelapa sawit. Pada pembiakan dengan kultur jaringan digunakan bahan pembiakan
berupa sel akar (metode Inggris) dan sel daun (metode Perancis). Metode ini
mampu memperbanyak bibit tanaman secara besar-besaran dengan tingkat produksi
tinggi dan pertumbuhan tanaman seragam.
- Pengembangan Bahan Tanaman
Pengembangan bahan tanaman kelapa sawit
pada dekade 1990-an bukan hanya difokuskan pada peningkatan produktivitas
minyak, melainkan juga pada perbaikan kualitas minyak sehubungan dengan
meningkatnya perhatian konsumen minyak nabati terhadap nilai nutrisi minyak
makan, dan juga alasan kesehatan. Komponen kualitas minyak yang menjadi
prioritas utama untuk diperbaiki adalah kandungan asam lemak tak jenuh (ALTJ),
khususnya kandungan asam oleat dan komponen minor minyak sawit, seperti
betakaroten, tocopherol, dan tocotrienol. Upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan kualitas minyak kelapa sawit melalui pemuliaan adalah dengan
mengintegrasikan gen penentu ALTJ dan komponen minor dari spesies liar Elaeis
oleifera ke dalam background genetik kelapa sawit komersial, E. guineensis.
Secara konvensional, proses integrasi
tersebut dapat dilakukan melalui prosedur silang balik (backcross). Namun
demikian, kemajuan seleksi melalui silang konvensional pada kelapa sawit sangat
lambat karena adanya faktor sterilitas sebagai akibat jika dua spesies yang
berbeda disilangkan. Untuk memecahkan kendala inefisiensi integrasi gen dari E.
oleifera ke E. guineensis diperlukan pendekatan baru. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan adalah dengan menggabungkan teknologi marka molekuler ke dalam
program seleksi silang balik, atau lazim disebut markerassisted selection
backcrossing (MAS BC).
Salah satu persyaratan untuk
melaksanakan MAS BC adalah tersedianya peta pautan genetik dan informasi
tentang lokasi dan pengaruh gen yang berasosiasi dengan karakter kuantitatif
tertentu (quantitative trait loci/QTL) sebagai faktor yang akan dijadikan
sebagai kriteria seleksi. Pemetaan QTL yang berasosiasi dengan kualitas minyak
belum pernah dilaporkan. Kajian mengenai pautan genetik dan QTL pada kelapa
sawit dengan fokus kualitas minyak, dan dengan menggunakan populasi BC sebagai
populasi pemetaan, diharapkan menjadi langkah awal yang signifikan untuk
memulai pelaksanaan MAS BC. Untuk memfasilitasi MAS, dalam rangka perbaikan
kandungan asam oleat pada tanaman kelapa sawit, telah dilakukan konstruksi peta
pautan genetik kelapa sawit berkerapatan tinggi Elaeis guineensis x E. oleifera
dan peta QTL yang berasosiasi dengan asam oleat. Marka Random Amplification
Polymorphism DNA (RAPD) dipilih sebagai marka untuk menghasilkan lokus DNA.
Populasi pemetaan yang digunakan adalah BC1 hasil persilangan 107-22-32 T x
87-56-56 D (E. oleifera ex Brasil x E. guineensis). Hasil analisis pautan
genetik pada 2003 menghasilkan 13 kelompok pautan pada E. oleifera dan 4 kelompok
pautan pada E. guineensis.
Dari sekira 364 juta tanaman kelapa
sawit yang ada di Indonesia, 80% berasal dari hasil penelitian PPKS. PPKS saat
ini memberikan jasa rekomendasi pemupukan bagi 350.000 hektare kebun kelapa
sawit dan memberikan jasa studi kelaikan pembangunan kebun bagi 30% kebun yang
dibangun pada era 1990 - 1999. PPKS juga memiliki laboratorium kultur jaringan
yang terbesar di dunia. Laboratorium analisis daun, tanah, dan pupuk dengan
kapasitas masing-masing 35.000, 10.000, dan 5.000 contoh per tahun .
Tak kurang dari 364 juta tanaman kelapa
sawit unggul hasil penelitian PPKS telah ditanam di seluruh Indonesia. Saat
ini, PPKS menyediakan sembilan pilihan varietas bahan tanaman kelapa sawit
unggul yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan jenis lahan. Program proteksi
tanaman sudah berhasil mengisolasi musuh alami Ganoderma boninense jamur yang
menyebabkan penyakit membusuk secara mendasar. Jamur tidak hanya untuk tujuan
pencegahan tapi juga penyembuhan tahap infeksi tertentu. Penelitian pada bidang
ini telah mengenali jamur Cordyceps aff militaris, virus b Nudaurelia merupakan
musuh alami ulat bulu. Penelitian lainnyatelah mengidentifikasi sekumpulan
tumbuhan untuk pemangsa hama yaitu Euphorbia heterophylla, Elephantopus
tomentosus L., Casia vora L., Boreria alata L., dan Turnera Subulata L. Dengan
penemuan ini, hama kelapa sawit dan penyakit dapat dikontrol secara biologis.
Perbaikan terhadap bahan tanaman kelapa
sawit dapat dilakukan dengan dua metode yakni dengan metode pemuliaan kelapa
sawit secara konvensional dan metode perbaikan tanaman dengan bioteknologi.
Tujuannya selain untuk peningkatan produksi minyak per satuan luas, juga
peningkatan mutu minyak, toleran terhadap hama penyakit, ciri psikologis, dan
eksploatasi interaksi genetik x lingkungan. Program pemuliaan secara
konvensional mengadopsi dua metode yaitu RSS (Recurrent Resiprocal Selection)
yang mampu memberi perbaikan pada produksi minyak sekitar 18 persen. Sedangkan
metode MRS (Modified Recurrent Selection) yang dikembangkan dengan melakukan
introduksi genetik baru, mampu meningkatkan produksi TBS dari 22 menjadi 33 ton
per hektar per tahun dan kandungan minyak terhadap tandan dari 20 persen
menjadi 25 persen.
Bioteknologi atau molecular breeding
antara lain dengan teknik in vitro melalui penerapan teknik kultur jaringan,
penerapan Masker Assisted Selection, rekayasa genetika dengan mengintrodusi gen
spesifik dari luar, serta dengan Molecular Cytogenetic.
- Pengolahan Minyak Sawit
PPKS telah menciptakan Pabrik Pengolahan
Kelapa Sawit (PKS) dan Pabrik minyak goreng supermini, mesin pengempa Tandan
Kelapa Sawit (TKS) untuk bahan baku kertas, mesin pengurai serta, mesin
perajang TKS, reaktor pengolah limbah cair. PKS supermini SM-500, merupakan PKS
terkecil di dunia sesuai untuk UKM. PPKS telah menghasilkan teknologi pembuatan
minyak makan kaya vitamin A, diperkaya omega-3, baking dan frying shortening,
pelumas, biodiesel, biolilin dan bioemolien dari minyak sawit. Dalam hal
pemanfaatan limbah, dikembangkan teknologi pembuatan kertas dari pulp TKS,
pemanfaatan serat untuk polypot, papan partikel, serat berlateks, teknologi
pembuatan arang dari cangkang dan TKS, pengurai serat TKS, reaktor pengolah
limbah cair, kompos dari TKS dan beberapa produk lainnya.
PPKS juga menyediakan jasa pelatihan
dalam segala aspek termasuk perkebunan, industri pengolahan, industri hilir dan
keuangan. Pelatihan diberikan oleh peneliti yang qualified dan berpengalaman.
PPKS juga menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga di dalam dan di luar negeri
demi kemajuan industri kelapa sawit Indonesia.
- Pengembangan Wilayah
Untuk mengoptimalkan potensi
pengembangan kelapa sawit di Indonesia, perlu diketahui informasi yang
berkaitan dengan infrastruktur, sarana dan prasarana yang menunjang, serta
informasi pendukung lainnya untuk tiap wilayah potensi. Wilayah potensi merupakan
wilayah yang sesuai untuk pengembangan budidaya kelapa sawit yang kondisi
eksistingnya belum dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit.
Berdasarkan Keputusan Bupati Nomor
525/684/K/2002 tentang Pembentukan dan Pengembangan Kawasan Industri Masyarakat
Perkebunan (KIMBUN) Kabupaten Mandailing Natal, maka KIMBUN untuk kelapa sawit
meliputi Kecamatan Batahan, Kecamatan Natal, Kecamatan Lingga Bayu dan
Kecamatan Muara Batang Gadis. Potensi lahan yang terdapat di Kabupaten
Mandailing Natal seluas 40.000 ha dengan status tanah merupakan hutan milik
negara dan tanah milik rakyat. Menurut arahan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW), lahan tersebut termasuk ke dalam Kawasan Hutan Produksi Konversi dan
Kawasan Perkebunan Besar.
Cerahnya prospek komoditi minyak sawit
dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia
untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Sesuai dengan
kebijakan pemerintah untuk pengembangan areal kelapa sawit ke arah Kawasan
Timur Indonesia (Departemen Pertanian, 2002) Perusahaan perkebunan telah
melakukan ekspansi bukan saja menggunakan lahan yang tersedia di pulau
Sumatera, tetapi juga di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi (Bangun, 2002) Penyebaran
areal yang berpotensi untuk pengembangan kelapa sawit tersebut umumnya terdapat
di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua, Sumatera
Utara, Bengkulu, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
- Tanaman kelapa sawit akan tumbuh dan berproduksi optimal pada daerah tropis dengan ketinggian tempat 200-400 m dpl, kisaran curah hujan 2.500-3.000 mm/tahun, kelembaban 60-80%, Suhu 25-27°C dan lama penyinaran 5-7 jam/hari.
- Pengembangan kelapa sawit selain pengembangan areal tanam, juga dilakukan pengembangan ahan tanaman dengan metoda konvensional (pemuliaan tanaman) dan bioteknologi (molecular breeding).
- Saran
- Untuk mendapatkan tanaman kelapa sawit dengan pertumbuhan yang baik dan berproduksi tinggi dan kualitas hasil olahanya baik, maka benih yang digunakan harus berasal dari benih yang bersertifikat dan lokasi penanaman memenuhi syarat untuk pertumbuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
kelapa-sawit-to-my-blog - reensaikoe.com
Kenapaa gabisa di copy?
BalasHapus